jump to navigation

Agama dan Kepatuhan Kita Maret 4, 2008

Posted by lsprofetika in inward looking.
trackback

Oleh: Jajang Yanuar H.

Ada kebebasan yang selamanya milik hati. Tapi tak bergeming untuk dilakukan. Sebab manusia beragama. Merujuk pada agama seperti berjalan di garis kebenaran. Tetapi agama berbeda-beda. Maka setiap umat beragama merasa paling benar.

Perpecahan pun membingkai kebenaran masing-masing tatkala kebenaran itu bersinggungan. Kenapa tidak saling membenarkan? Sejadi-jadinya, malah perpecahan itu yang dibenarkan. Lantas, kekerasan itulah yang menjadi tujuan beragama.

Apakah Tuhan-Tuhan umat juga saling berperang? Tidak ada yang tahu. Dan sepertinya tidak ada yang memperdulikannya. Konon ceritanya dua agama berperang. Ketika salah satu menang, Tuhan telah memenangkan umat dengan takdirnya. Menjaga umatnya dari kepunahan, menjaga peribadatan. Tuhan memurkai Tuhan yang lain, sungguh Tuhan tak Bertuhan. Manusia pun memuji Tuhan Yang Maha Esa.

Layaknya kekosongan, cerita itupun tidak ada yang mengamini. Hanya pengalaman spiritual belaka. Ada yang mempercayai, pun tak sedikit yang mencaci dengan kesadaran keimanan masing-masing. Dunia malah dekat dengan permasalan kesenjangan, kemiskinan, perkelahian, adu domba, monopoli dan keburukan politik kekuasaan. Tapi bukannya agama yang diyakini telah hadir? Bagaimana manusia menerima agama itu? Sebuah kebenaran seperti di atas, ataukah alat kebersamaan dalam ketidakseragaman umat?

Ada Hitchens yang bertanya juga : “Jika faktor manusia yang menyebabkan keburukan tumbuh dalam suatu umat, berarti tak ada peran agama dalam memperbaiki umat itu. Jika demikian, jika akidah ditentukan oleh sejarah, dan bukan sebaliknya, apa guna agama bagi perbaikan dunia?”.

Manusia tidak berdaya dengan keyakinannya. Akalnya mati dibunuh keterbatasan pemahaman agama. Manusia bertuan pada agama yang menjanjikan kemegahan surga dalam kekekalan.

Sayang, kitab suci tidak bisa berkata. Dalam keadaan alpa, kepada yang tak berdaya itulah agama menjadi tenaga yang dahsyat. Tokoh agama berdalih diatas kitab dan menginjak kekuatan tak terpermanai dalam keimanan. Agama menjadi kekuatan yang tak terbatas, pada akhirnya.

Agama dipisahkan dari ruang publik, skularisme. Membedakan urusan per urusan demi kemaslahatan. Ada juga atheisme (no agama-red). Menyangkali Tuhan adalah sesuatu yang mudah, tidak beribadat saja cukup. Tidak juga meniatkan hadirnya Tuhan dalam hidup. Bahwa Tuhan telah mati (got is tot).

Segala kebaikan dan kesalahan, berupa derma dan tingkat kasih sayang sesama manusia. Tidak ada yang salah dengan setiap perilaku, maklumkan saja atau hindari menyakiti sesama. Baik itu binatang, pohon, alam seisinya terlebih manusianya.

Memang ada hal yang lain, perikemanusiaan. Maka kita akan berbicara hakikat dengan naluri. Sebut saja rasa butuh, menjalar pada sekujur tubuh kita. Dikala lapar, penuhi dengan makan. Dahaga, harus minum. Libido yang mencuat, terpuaskan melalui interaksi dengan lawan jenis. Kalau dengan sejenis, sepertinya itu penyakit dari kewajaran. Kesemuanya dibingkai aturan yang mengharuskan mengikuti normanya.

Cukup jelas contoh jasmani diatas tentunya. Sedangkan yang ruhani, kita masih meyakini seonggok hati dan pikiran. Sangat complicated, salah satunya pengagungan sesuatu yang lebih tinggi. Kembali kita akan menyebut nama Tuhan, yang menghidupkan dan memberi rezeki kehidupan. Dia tidak bisa bersentuhan, namun menjelma di setiap relung suku, bangsa, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan sampai menentukan pilihan.

Percaya atau tidak, Tuhan memberikan juga agama untuk mengukur derajat kepatuhan. Apakah ciptaannya saleh atau sesat? Kesalehannya memberikan kebaikan, kesesatannya menimbulkan kemurkaan.

Berarti agama untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Demi kemanusiaan, seharusnya tidak ada yang membenarkan agama. Yakinlah bahwa Tuhan akan menilai kepatuhan kita terhadap kemanusiaan. Mari beriman untuk Tuhan Yang Maha Tahu. []

Komentar»

No comments yet — be the first.