Berhala-berhala Baru; Refleksi Makna 1 Syawal 1426H Februari 5, 2008
Posted by lsprofetika in inward looking.2 comments
Oleh: Firdaus Putra A.
“Apakah kita semua, benar-benar tulus menyembah pada-Nya. Atau mungkin kita hanya takut pada neraka, dan inginkan surga. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepada-Nya. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut nama-Nya. Bisakah kita semua benar-benar sujud sepenuh hati. Karena sungguh memang Dia, memang pantas disembah, memang pantas dipuja”.
(Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada: Chrisye)
GEMA takbir membahama di mana-mana, suasana masjid kian ramai. Di penuhi oleh ratusan jama’ah yang hendak melakukan salat Ied pada 1 Syawal 1426 H tahun ini. Orang tua, remaja, serta tidak ketinggalan anak-anak belia memadati sebuah masjid yang masih dalam proses renovasi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, salat Ied tahun ini dilaksanakan sekitar pukul 06.00 WIB. Di awali oleh seorang muadzdzin yang menata barisan shof. Dan dilanjutkan dengan salat Ied berjama’ah. Di penghujung ritual, khotib memberikan khutbah tentang urgensi puasa Ramadhan dan penuaian ibadah salat Ied. Dan cerita itu pun dimulai dari sini.
Religiofication of reward and punishment
ACAP kali saya mendengarkan khutbah yang cukup ‘menjenuhkan’. Khutbah yang selalu diulang-ulang dalam tiap tahun. Saya rasa kejadian ini bukan hanya di desa ini. Desa yang terkenal cukup religius masyarakatnya, Karanganyar Kec. Tirto Kab. Pekalongan. Namun, saya rasa kejadian ini cukup banyak kita jumpai di berbagai wilayah lainnya. Bukan hanya sebuah prediksi, tetapi beberapa kali saya singgah di beberapa desa dengan kecamatan atau kota yang berbeda, pun demikian adanya.
Ya, bagaimana ketika isi khutbah selalu menyeru pada amar ma’ruf nahy munkar. Karena memang dari perkara inilah agama (baca: Islam) menemukan momentumnya. Salah satu seruan ‘wajib’ ketika mendakwahkan agama. Dan seperti biasanya pula, di penghujung khutbah bagaimana gambaran surga diilustrasikan sedemikian rupa pada jama’ah atas kemenangan dalam melaksanakan ibadah puasa. Dan bagaimana ilustrasi neraka turut menambahkan ‘sakral’nya ibadah tersebut. Namun, apakah pemaknaan 1 Syawwal hanya berhenti pada proses ‘pemberian’ surga-neraka pada umat? Atau jangan-jangan agama yang dipahami oleh para ulama (baca: khotib) adalah sekedar surga dan neraka an sich? Atau alternatif terakhir, mungkin kita belum cukup dewasa untuk menyampaikan agama pada umat secara komprehensif?
Yang sempat saya tangkap adalah 1 Syawwal menjadi sebuah ritual penyematan label, siapa yang pantas masuk surga-dengan berbagai amal ibadah di bulan Ramadhan. Dan menjadi seruan untuk meninggikan derajat keimanan-ketakwaan, jika sebelumnya kita belum optimal di Ramadhan tahun lalu. 1 Syawwal hanya nampak menjadi proses penggantungan ibadah kita terhadap surga-neraka. Artinya surga-neraka menjadi semacam tujuan final manusia beribadah. Tapi, sudah tepatkah pemaknaan 1 Syawwal yang kadung mendarah-daging ini?
Sebenarnya refleksi ini bukan sekedar pada 1 Syawwal sebagai momen terbesar umat Islam. Melainkan sebuah refleksi atas kehidupan religi umat Islam secara luas dan umum. Bagi saya, ada pemaknaan yang dangkal ketika 1 Syawwal (baca: agama) yang hanya dimaknai sebagai proses ‘pemberian’ surga-neraka. Penetapan siapa yang berhak nantinya masuk surga dan sebaliknya. Ujung dari semua nasehat hanya seputar pahala-dosa; surga-neraka. Jangan-jangan pahala-dosa; surga-neraka sudah menjadi semacam agama baru (mengalami religiofication)? Artinya jangan-jangan pahala-dosa; surga-neraka, menjadi citra ideal; tempat di mana manusia menggantungkan seluruh amal ibadahnya. Jika hal ini benar, maka penggantungan amal ibadah manusia bukan lagi pada Tuhannya melainkan pahala-dosa; surga-neraka, yang lebih menarik dari pada Tuhan itu sendiri. Padahal, surga-neraka hanyalah sebagai tempat yang tidak jauh berbeda dengan hunian kita di Bumi; sama-sama makhluk Tuhan. Jika demikian, ironis bukan?
Proses penggantungan amal ibadah manusia kepada surga-neraka sesungguhnya merupakan proses berhalanisasi ketika pusat ibadah tidak lagi pada Tuhan semata; tetapi pada janji Tuhan tentang tempat yang begitu istimewa; menyejukan, damai, lengkap fasilitasnya, dan berbagai macam bentuk keindahan. Berhalanisasi pada tujuan dasar manusia untuk hidupnya. Berhalanisasi yang sangat halus, dan seakan-akan benar menurut agama sendiri. Sehingga tidak heran jika Tuhan seringkali berpesan kepada kita; beramal sholehlah kamu dengan hati yang ikhlas. Sesungguhnya Ia sedang menyuruh kita untuk membunuh berhala-berhala yang ada di akal-budi kita. Sepertinya ia ingin berpesan, bukan surga-neraka ‘tuhanmu’; melainkan Aku-Tuhan Penguasa Alam semesta; Tuhan Pencipta Makhluk; dan Tuhan Empunya surga-neraka.
Saya rasa proses penggantungan semacam ini tidak ubahnya dengan kita mendirikan berhala-berhala baru ke dalam hati-pikiran kita. Sebuah berhala yang citranya teramat ‘putih’; berbeda dengan berhala Lata, Uzza, dan Manna yang kelewat ‘hitam’. Pun berhala dalam bentuk kekayaan, kekuasaan, kecerdasan dan seterusnya, yang seringkali dalam pepatah Jawa pun kita ingat sebagai “ojo dadi menungso sing adigang, adigung, adiguna”. Berhala dalam bentuk surga-neraka inilah berhala yang sulit untuk dihancurkan. Jangan-jangan hari ini kita sendiri tengah ‘menyembah’ berhala itu. Ketika amal ibadah selalu kita tujukan ‘demi’ sebuah tempat yang konon katanya membahagiakan; surga. Atau jauh, sejauh-jauhnya, dari tempat yang katanya menyeramkan; neraka. Amal ibadah kita menjadi sebatas untuk membeli sebuah tempat wisata di alam lain sana, bukan untuk bertemu si empunya tempat.
Missing step
MENGHANCURKAN berhala jenis ini lebih sulit; karena seringkali ia dihidupkan dari dan oleh diri kita sendiri. Hal ini terjadi ketika kita mengorientasikan diri pada sesuatu yang terbatas. Dan juga seringkali hal ini menjadi penghujung dakwah yang acap kali disampaikan oleh para ulama-ulama (elit-elit agama). Saya sedang tidak bermaksud mengatakan bahwasanya mereka (elit agama) bertanggungjawab atas hidupnya berhala jenis baru ini. Tapi saya sedang berusaha menunjukan ada satu tahap yang masih kurang atau belum tercukupi-untuk tidak mengatakan, sama sekali tidak tercukupi-dalam proses dakwah agama (transformasi agama). Ada satu fase yang terlewat, yang akhirnya keberagamaan umat hanya sampai pada sebatas penyembahan pada berhala (baca: surga-neraka) bukan Tuhan itu sendiri.
Proses transformasi agama atau dakwah menjadi sentral dari Islam. Tidak heran jika Islam digolongkan menjadi salah satu agama misionaristis. Ia mempunyai semangat untuk menyampaikan ‘kebenaran’ pada seluruh umat manusia (dan alam semesta), kapan dan di mana pun. Yang menjadi masalah adalah ketika dalam dakwah, agama sendiri mengalami pendangkalan; yang melahirkan berhala-berhala baru, yang seakan-akan sah untuk disembah.
Masalah dakwah adalah masalah pendidikan umat. Dan hal ini meniscayakan dua kelompok sebagai pemainnya-bukan bermaksud mendikotomikan, hanya untuk mempermudah dalam memetakan. Pertama, yakni ulama atau elit agama yang seringkali menjadi sentral dari segala panutan umat. Ia menjadi sentral karena dalam dirinya ia memiliki kemampuan yang lebih atas yang lain dalam urusan atau pengetahuan tentang agama. Bisa dikatakan ia menjadi guide untuk umatnya.
Kelompok terakhir adalah massa yang jumlahnya relatif banyak, dengan penguasaan pengetahuan tentang agama relatif terbatas. Biasanya kelompok ini disebut dengan umat-ummat. Karakter kelompok ini biasanya tunduk terhadap segala petunjuk, putusan, nasehat yang diberikan oleh ulama (elit agama). Karena ia memposisikan dirinya sebagai orang yang kurang tahu dan mesti harus dibimbing agar selamat. Karakter semacam ini pula yang menempatkan mereka sebagai obyek dari segala jenis aturan-aturan. Padahal belum tentu mereka paham betul akan aturan-aturan yang dimaksud. Hanya saja, mereka sudah kelewat percaya kepada ulama. Sehingga apa yang diperintahkan, dinasehatkan, ditunjukan oleh ulama mereka amini begitu saja tanpa reserve.
Dan di antara dua kelompok itu terdapat kelompok tengah yang berfungsi sebagai jembatan antara massa dengan elit. Jembatan dalam arti corong penafsir atau transmiter serta translater bahasa dari elit ke massa, atau sebaliknya. Kelompok ‘antara’ ini dalam penguasaan pengetahuan agama relatif mencukupi. Hanya saja ia biasanya lebih dekat dengan elit daripada massa itu sendiri. Kedekatan ini lebih bermakna personal dan intim, daripada kedekatan dengan massa yang relatif mengambang. Hal ini lebih disebabkan karena ia sering melakukan charging of religio-knowledge kepada ulama atau elit. Sehingga komunikasi antara mereka lebih intens.
Selanjutnya, dalam proses pendidikan agama inilah pola relasi yang subyek-obyek; kelas atas-bawah; awwam-khos berlaku. Artinya dalam proses pendidikan inilah kelompok (mengacu pada kelas) satu dengan yang lain mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan pemahaman yang berbeda atas semangat atau ajaran agama itu sendiri. Mau tidak mau, dari sananya karakter sebaran pengetahuan agama adalah hirarkis. Ia berasal dari Tuhan, melalui malaikat, diterima oleh nabi, kepada keluarga, sahabat dan terakhir masyarakat umum. Hirarkis dalam arti tidak sembarangan orang memiliki otoritas untuk meyebarkan ajaran agama. Hanya orang-orang tertentu; dari sinilah pengkelasan dalam penguasaan pengetahuan agama bermula.
Elit adalah panutan bagi massa, dan elitlah yang berhak menafsirkan serta memberikan apa-apa yang dirasa mencukupi atau dibutuhkan oleh massa. Selaras dengan derajat ekonomi, sosial-politik, kenyataannya massa masih terbelenggu hanya seputar masalah mencari sesuap nasi untuk hidupnya. Sehingga ia tidak atau jarang berfikir tentang agama secara mendalam. Mereka lebih membutuhkan formula-formula praktis dalam mengatasi masalah hidupnya. Pada titik ini, ulama atau yang sekarang menjadi trend, da’i media menemukan momentumnya. Aa Gym, Jefri Al-Bukhori, Syamsul Arifin dan seterusnya menemukan ‘pangsa pasar’. Melalui bantuan media, mereka mengarahkan agar umat berfikir secara praktis, misal melalui rumus a la Aa Gym dan Jefri. Mereka sekali-kali tidak pernah memberikan formula yang mencapai akar masalah, mengapa kemiskinan atau lebih tepatnya pemiskinan terjadi? Karena adanya mereka merupakan kepentingan media (baca: stasiun televisi). Sehingga apa-apa yang disampaikan ketika mereka mengudara adalah titipan media yang bersangkutan, sedikit sekali semangat yang murni dari diri mereka. Mereka tak ubahnya sebagai robot atas beberapa stasiun televisi, tentunya dengan sejumlah kompensasi.
What we to be done?
APA yang harus kita lakukan melihat kenyataan pendidikan agama yang justru mendangkalkan agama itu sendiri? Pertanyaan yang cukup sulit, karena yang jelas berbicara pendidikan atau dakwah agama adalah berbicara suatu sistem yang kompleks dan harus terprogram. Artinya pertama-tama, elit-elit agama harus searif mungkin mensikapi permasalahan umat. Mereka diharapkan tidak sekedar menjadi candu bagi umatnya tetapi harus menjadi obat yang menyembuhkan hingga akar-akar penyakit, masalah kehidupan. Pada sisi ini, kepentingan serta jarak kultural harus diminimalisir. Artinya komunikasi antara elit dengan massa, baik melalui transmiter atau tidak, harus terjalin dengan intens. Hal ini diniscayakan agar elit mengetahui secara mendalam apa-apa yang umat butuhkan. Selain hanya berorientasi pada kebutuhan umat, elit juga harus memiliki visi dari tahapan-tahapan dakwah yang jelas. Secara ilustratif, setelah mereka naik kelas satu, mereka akan diajarkan materi kelas dua, dan seterusnya. Jadi apa-apa yang disampaikan oleh elit tidak melulu materi kelas satu, padahal massa sudah naik kelas dua.
Lalu melihat realitas semacam ini apa yang akan kita perbuat? Apakah akan mengikuti putaran arus, atau akan melawannya?! []
Menyoal Kemiskinan, Menyoal Agama Februari 5, 2008
Posted by lsprofetika in islam dan sosial.add a comment
Oleh: Firdaus Putra A.[1]
Agama adalah untuk manusia, bukan Tuhan.
Sehingga agama harus membumi, untuk kini dan di sini;
Bukan melangit, untuk lusa dan di sana.
(sepertinya bijak)
Avant phropos
Dalam beberapa bulan terakhir kita dibuat heran dengan banyak berita yang mennyuguhkan berbagai macam bencana. Bukan hanya bencana alam saja seperti banjir yang setiap tahunnya sudah menjadi tradisi. Atau tanah longsor akibat pembukaan, penebangan hutan yang semena-mena. Tetapi, bencana yang saya maksud adalah bencana kemanusiaan. Bencana yang setiap hari, bahkan setiap saat mampir di sekitar kita, bahkan mungkin di keluarga kita sendiri.
Kemiskinan, busung lapar, gizi buruk, atau makan nasi aking yang sebenarnya tidak laik makan, dan seterusnya. Bencana kemanusiaan yang selalu menghinggapi negara di belahan Dunia Ketiga. Ketaktersediaan air bersih[2], minimnya pelayanan kesehatan, atau pun angka pengangguran yang semakin meningkat selaras dengan angka kemiskinan yang terus merangkak. Segudang masalah yang disediakan negeri ini yang mungkin tidak akan habis untuk kita teliti, kaji. Tetapi, sungguh ironis ketika bencana yang saya maksud di atas terjadi di tengah-tengah negara, yang konon katanya agraris. Bukankah ironis ketika di Karawang sebagai penghasil beras sebagian masyarakatnya justru mengkonsumsi nasi aking (nasi sisa, yang dikeringkan kemudian diolah lagi untuk dimakan).
Segudang masalah di atas termanifestasikan ketika setiap hari kita saksikan tayangan berita kriminal selalu saja menemukan akar masalah yang sama. Seorang pencuri, jambret, maling yang tertangkap karena membutuhkan uang untuk memberi makan anak-istrinya. Saya rasa hal ini sangat berhubungan, antara kemiskinan dan kriminalitas. Tidak salah jika Muhammad SAW memberi semacam warning light bahwa kaadal faqru an yakuuna kufran, yang kurang-lebih bahwa kemiskinan seseorang akan menjadikan ia kafir (bertindak menyimpang dari ketentuan agama). Teks itu nampaknya sudah cukup teruji kebenarannya sebagai postulat agama.
Tetapi apakah agama hanya akan berhenti saja pada titik pemberi legitimasi, bahwa ini benar, itu salah? Atau agama mampu memberikan semacam solusi alih-alih ilusi atas bencana kemanusiaan itu?
Agama, ilusi atau solusi?
Orang seperti maling, jambret, tukang palak adalah kelompok yang seringkali mendapat dua kali lipat punishment. Bayangkan saja, mereka sudah secara ekonomi tidak berpunya, dan harus rela (terpaksa) menerima laknat dari Tuhan. Jadi, bukan lagi fakir-miskin tetapi kafir-miskin. Dan di sisi yang lain, tidak sedikit juga orang-orang yang hidup pas-pasan; kuli bangunan, petani yang setiap tahun merugi, nelayan yang dijanjikan mendapat subsidi solar, tetapi hanya janji kosong, buruh pabrik yang setiap bulannya harus masih kekurangan, dan selalu berfikir ketika kontrak kerjanya habis[3] atau kuli gendong yang meletakan nasibnya pada orang-orang yang menyuruhnya, dan masih banyak ikon lainnya.
Pada kelompok yang tersebut di akhir itu, ketika mereka telah jengah dengan ritual kehidupan yang menindas, memaksa, mencekam mereka mecari semacam perlindungan kepada agama. Berbeda dengan kelompok yang pertama, yang selalu saja diancam oleh agama. Ketika kelompok yang terakhir pergi beribadah, dan setiap kali juga para ustadz, kyai atau lainnya memberinya semacam peneduh di kala kepanasan menghadapi matahari kehidupan. Dengan gampangnya para ustadz, kyai atau lainnya itu[4] memberi semacam taushiyyah, nasehat agar kita selalu bersabar, bertawakal, dan berserah diri kepada Tuhan. Sulitnya mencari nafkah adalah cobaan Tuhan, dan jika kita menghadapinya dengan penuh pasrah, maka Tuhan akan menggantinya dengan Surga?!
Dengan segala taushiyyah, nasehat yang menyejukan itu masyarakat sedang digiring untuk hidup di dunia lain-meminjam bahasa Munir Mulkhan, other wordly. Hidup untuk Surga di sana, yang akan kita dapatkan kelak di akhirat, mungkin semacam itu. Jika agama hanya termaknai sebatas dosa-pahala, Surga-Neraka maka agama sejatinya telah kehilangan semangat awalnya. Semangat pembebasan, bukankah para Rasul selalu berada di tengah-tengah orang miskin, tertindas bukan sebaliknya. Atau jika agama tetap dimaknai hanya dalam kerangka ‘ubudiyyah an sich maka agama telah menjadi ilusi, tercerabut dari akar kemanusiaan, maka buanglah agama!
Lalu, bagaimana agama agar tampil sebagai solusi bahkan membumi di tengah-tengah umatnya? Dalam tradisi Kristiani mungkin kita mengenal bagaimana manusia harus menidirikan Surga Bapa di bumi ini[5], yakni dengan jalan mendatangi alamat-alamat Tuhan Allah yang ada di bumi. Alamat-alamat tersebut adalah orang fakir-miskin, pengamen jalanan, pengemis, kaum miskin kota dan seterusnya. Dengan mendatangi alamat-alamat Tuhan Allah itu, maka manusia akan menemukan Surga Bapa yang sejatinya.
Atau dalam tradisi Islam terdapat suatu hikayat, bagaimana seorang pelacur dimasukan Tuhan ke Surga lantaran memberi makan anjing, dan seorang ‘abbid[6] justru dimasukan-Nya ke Neraka lantaran ia tidak saleh terhadap tetangga di sebelahnya yang kelaparan. Semangat yang ingin diperlihatkan dari hikayat ini, bahwa sekali-kali agam bukanlah semata masalah keakhiratan, atau dosa-pahala semata. Tetapi agama juga adalah persoalan bagaimana seseorang mampu menjadi pelindung, pengayom bagi saudara-saudaranya yang tertindas, terdzalimi dan seterusnya[7]. Karena memang seperti itulah tugas agama yang sesungguhnya, diturunkan guna menjadi rahmatan lil ‘alaamin, artinya agama ditujukan untukmanusia, alam semesta agar hidup serta kehidupan di dunianya menjadi semakin sejahtera. Jika agama belum menjadi rahmatan lil ‘alaamin maka kita perlu menanya apa yang masih belum tepat?
Hikayat di atas dipertegas oleh Tuhan secara langsung melalui Teks Quran, dalam surat Al-Maun kita temukan inti sari yang kurang-lebih, “Berdustalah mereka yang hanya menikmati bersembahyang, namun melupakan nasib orang-orang yang tersingkirkan dan menderita secara sosial”. Lalu dari titik manakah kita memulai ‘menyeret’ agama yang saat ini kelewat melangit?
Semacam penutup
Jika dulu agama kita gambarkan, pahami hanya sebatas ritual an sich, maka saatnyalah merubah paradigma agama dari teologi yang melangit menjadi teologi yang membumi. Bahwa verifikasi atas ibadah kita kepada Tuhan adalah melalui jalan kemanusiaan. Ibadah kita tidak hanya untuk yang di atas, karena sekali lagi Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita. Dan sekali-kali ia tidak akan rugi jika seluruh umat-Nya membangkang darinya. Artinya, ibadah baik ‘ubudiyyah lebih-lebih mu’amalah haruslah berdimensi sosial. Dalam dimensi sosial inilah ibadah kita menemukan pijakannya di bumi. Dan di bumi inilah pijakan permasalahan yang paling riil untuk kita jawab, selesaikan. Bukankah Kitab suci tidak lain berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab, selesaikan?!
Perubahan paradigma ini akan mengarahkan kita pada sikap keberagamaan yang profetis. Artinya sikap keberagamaan seperti yang para nabi jalani, yakni beragama di tengah tengah umat yang membutuhkan solusi atas masalah-masalah riil kehidupan bukan sebuah ilusi tentang dosa-pahala, Neraka-Surga. Sikap keberagamaan yang profetis ini seringkali terhalangi oleh forma-forma agama yang membelengu dan mengikat kita untuk menemukan esensi atau semangat agama yang sebenarnya. Patut kita cermati apa yang disampaikan oleh Munir Mulkhan, bahwa mungkin menyakitkan melihat praktik keagamaan yang menyumbang pemiskinan (proletarisasi), ketika rakyat jatuh miskin dan mati kelaparan, pemimpin sibuk dengan kuasa dan surganya sendiri.
Secercah harapan, semoga berangkat dari titik inilah kita akan mengoreksi diri tentang bagaimana sikap keberagamaan kita selama ini, adakah diri kita egois hanya befikir tentang pahala agar kita dapat dimasukkan ke dalam Surga-Nya, atau kita mampu keluar dari keegoisan diri dengan memandang bahwa rahmatan lil ‘alaamin adalah ketika kita mau memberi pengayoman, perlindungan, bantuan dan sebagainya kepada saudara saudara kita yang membutuhkan. Wallahu a’lambishshawaab []
_________
Footnote:
[1] Ka.Div. Jaringan Lembaga LS-Profetika, juga terlibat dalam GARPU (Gerakan
Aliansi Rakyat untuk Penghapusan Utang).
[2] Diperparah dengan adanya kebijakan negara tentang privatisasi sumber daya
air, sehingga air sebagai hajat hidup orang banyak saat ini telah
diperjual-belikan, ingat pasal 33 UUD 1945.
3 Karena kebijakan labour market flexibility hasil dikte IMF lewat LoI-nya
kepada pemerintah Indonesia.
4 Lebih kentara lagi kita temukan pada bermunculannya da’i-da’i media yang
selalu saja sama, berbicara tentang dosa-pahala, neraka-surga. Padahal masalah
riil masyarakat adalah kemiskinan, pengangguran dan seterusnya.
5 Romo J. Sunarka SJ, dalam “Tafakur Bersama; Agamawan Menyoal Kemiskinan”,
Baturaden pada 2 Maret 2006.
6 Orang yang gemar beribadah, ritual an sich.
7 Dalam hal ini Moeslim Andurrahman memberi istilah baru, the new mustadl’afuun.